Senin, 17 November 2008

nikmat? why not

Wahai saudaraku yang budiman berapakah banyak harta yang kita miliki,seribu rupiah ,sepuluh juta ,seratus juta,selusin rumah….dst. banyaknya harta bukan jadi soal, yang menjadi permasalahan adalah sejauh mana kita memberikan rasa timbal balik (hukum III Newton, aksi reaksi) kepada Dzat yang memberi harta kepada kita semua. Sebesar apakah rasa penghargaan kita terhadap nikmat yang kita dapatkan. Sebesar gunung Lawu atau sebesar nyali kita.

Sudahkah kita melakukan “ikrar” mulut dan hati untuk menyatakan rasa thanks kepada Sang Pemberi. Kadang manusia sering lupa, atau memang sengaja untuk melupakannya. Sesungguhnya Sang Maha Kuasa sering mengingatkan kita untuk ingat baik dibulan bulan yang “fitri” ataupun disetiap waktu. Bahkan Tuhan mengingatkan kita bukan diwaktu menjelang dewasa melainkan sejak waktu “dini” menyertai kita. Bukan rahasia lagi memang manusia kalau merasa dirinya serba cukup maka dia akan melampaui batas. Semoga kita termasuk orang yang tidak menyia- nyiakan nikmat

Jagalah pikiran kita, mari kita tidak menjadi orang waras (ha...ha... )

writer:crazy

4 komentar:

Anonim mengatakan...

kalau begitu kalo beli es di warung akan aku habiskan hingga tetes terakhir...(biar dibilang syukur nikmat)

Anonim mengatakan...

tunggu dulu,kalo mo gila jangan ngajak orang dong!

Anonim mengatakan...

sprtnya aku menangkap sesuatu yang tersembunyi dari tulisan ini

Anonim mengatakan...

hmmmm... kayaknya ada sesuatu nih...
kok 'dungaren' isi postingnya kayak gtu?!
kelihatannya si penulis memiliki 'jiwa yang labil' tuh...